Kami Ingin Dilindungi dan Hidup Sehat: Suara Anak Sikka soal Kekerasan Seksual dan Sampah

Bupati Sikka dan Para stakeholder Pose bersama Penasihat anak Kabupaten Sikka dan Tim Yayasan FREN

Maumere –FREN MEDIA. 
Anak-anak Kabupaten Sikka melalui Tim Penasihat Anak menyampaikan suara, keprihatinan, dan harapan mereka kepada Pemerintah Daerah kabupaten Sikka dan para pemangku kepentingan. Aspirasi ini disampaikan langsung  dalam dialog bersama bupati Sikka  yang difasilitasi oleh Yayasan FREN Mitra ChildFund Internasional di Indonesia, pada hari Jumat 23 Januari bertempat di Aula Bapperida Kabupaten Sikka. 

Isu utama yang disuarakan anak-anak adalah perlindungan anak dari kekerasan seksual serta keterlibatan anak dalam praktik pekerja seks komersial. Anak-anak menegaskan bahwa mereka yang berada dalam situasi tersebut bukan pelaku, melainkan korban yang harus dilindungi, dipulihkan, dan dijamin hak-haknya.
Berdasarkan data dari Baperida, UPTD PPA, dan KPAD Kabupaten Sikka, tercatat kasus kekerasan seksual terhadap anak sebanyak 21 kasus pada tahun 2023 dan meningkat menjadi 27 kasus pada tahun 2024. Meskipun data resmi tahun 2025 belum diperbarui, sejumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak telah diberitakan oleh media sepanjang tahun tersebut.

Selain itu, hasil kunjungan ke UPTD PPA pada Januari 2026 menunjukkan adanya peningkatan kasus pekerja seks komersial anak, yang tercatat meningkat hingga 13 kasus. Anak-anak juga menyoroti proses penanganan yang dinilai belum sepenuhnya ramah anak serta masih berpotensi menimbulkan stigma.

Anak-anak mendorong Pemerintah Kabupaten Sikka untuk memperkuat edukasi pencegahan kekerasan seksual secara merata hingga ke desa-desa dan sekolah, melindungi privasi korban, meningkatkan pengawasan penginapan, meningkatkan kapasitas seluruh stakeholder, serta menyediakan layanan ramah anak yang mudah diakses.

Selain isu perlindungan anak, anak-anak juga menyoroti persoalan lingkungan hidup, khususnya pengelolaan sampah di Kabupaten Sikka. Berdasarkan data yang dihimpun, Kabupaten Sikka menghasilkan sekitar 50 ton sampah per hari, namun baru sekitar 51 persen yang tertangani.
Keterbatasan armada pengangkut sampah, minimnya pemilahan dari sumber, serta kurangnya fasilitas pendukung dinilai berdampak langsung pada kesehatan dan kualitas hidup anak-anak.

Melalui dialog ini, anak-anak merekomendasikan penguatan edukasi pemilahan sampah sejak dari rumah, pembangunan TPS 3R berbasis masyarakat, pelatihan pengolahan sampah bagi anak dan masyarakat, pengadaan tong sampah terpilah di ruang publik, serta penguatan sarana dan operasional pengangkutan sampah.
Anak-anak percaya Kabupaten Sikka dapat menjadi daerah yang benar-benar ramah anak dan berkelanjutan apabila pemerintah, masyarakat, dan anak-anak berjalan bersama.

“Kami ingin dilindungi dan hidup sehat. Anak bukan untuk disalahkan, tetapi untuk dilindungi,” demikian pesan yang disampaikan oleh Tim Penasihat Anak Kabupaten Sikka.

“Anak-anak Sikka sudah bersuara. Bupati merespons. Nantikan update selengkapnya…”

( Liputan Tim Media FREN/Frumen



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyiapkan Remaja Sehat dari Sekolah: Program Kesehatan Yayasan FREN di 7 SMK Kabupaten Sikka

Salam Awal Tahun dari Tim Redaksi FREN MEDIA